Intan Jaya, Papua Pegunungan — Komitmen Maximus Tipagau dalam membangun Papua tidak hanya tercermin dari jejaknya sebagai tokoh muda inspiratif, tetapi juga dari langkah konkretnya dalam mengembangkan potensi ekonomi masyarakat lokal. Melalui Yayasan Somatua, Maximus aktif membina masyarakat Suku Moni di Intan Jaya dalam usaha pertanian kopi sebagai jalan menuju kemandirian ekonomi berbasis kearifan lokal.
Menurut Maximus, pengembangan kopi bukan hanya soal komoditas, melainkan tentang menanamkan nilai-nilai wirausaha, keberdayaan, dan kebanggaan terhadap tanah sendiri. Dalam prosesnya, ia tidak ragu mengalokasikan dana dan tenaga demi membimbing masyarakat agar mampu menanam, merawat, dan mengolah kopi dengan cara yang tepat dan berkelanjutan.

“Ini bukan sekadar soal uang. Ini tentang bagaimana masyarakat bisa menanam dari tanahnya sendiri, menghasilkan kopi terbaik, dan memahami proses bisnisnya secara menyeluruh. Saya bangga karena mereka mulai melihat kopi sebagai masa depan, bukan hanya sebagai tanaman,” ujar Maximus dalam keterangannya.
Meski proses pembinaan memerlukan biaya yang besar, Maximus menegaskan bahwa nilai jangka panjang dari kopi jauh lebih berharga. Ia menyebut bahwa kopi Papua — khususnya dari dataran tinggi Intan Jaya — memiliki potensi menjadi komoditas unggulan nasional bahkan internasional, apabila dikelola secara serius dan profesional.
“Kita bisa cari biaya, tapi nilai kopi jauh lebih mahal untuk masa depan. Ini bisa menjadi masa emas kedua Papua, jika kita tanam dan kelola dengan benar,” ungkapnya.

Sebagai pendiri Yayasan Somatua, Maximus tidak hanya berperan sebagai pembina, tapi juga sebagai mentor yang terlibat langsung dalam proses pengembangan masyarakat. Ia turut memberi motivasi kepada warga pemilik lahan di pegunungan agar mulai menanam kopi dengan metode yang benar demi hasil berkualitas.
“Kalau kamu punya gunung, tanamlah kopi yang baik. Hasilkan kualitas yang layak jual. Itu bukan hanya mengangkat nama kampungmu, tapi juga memberi masa depan yang lebih baik untuk generasi setelahmu,” tambahnya.

Langkah Maximus ini tidak hanya memperkuat ketahanan ekonomi lokal, tetapi juga menjadi bukti bahwa pembangunan Papua bisa dimulai dari desa, dari kebun, dan dari tangan masyarakat sendiri — selama ada pendampingan, pendidikan, dan kesungguhan.
Dengan pendekatan yang menyatu antara budaya, alam, dan pemberdayaan ekonomi, Maximus Tipagau membuktikan bahwa membangun Papua bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga panggilan hati bagi setiap orang yang peduli akan masa depan tanah kelahirannya. (MGP)


